Air Terjun Telaga Dwi Warna

Begitulah orang biasa menyebutnya.  Atau air terjun 2 warna, atau telaga 2 warna.

Jarak dari rumah kami di Medan kurang lebih hanya 45 km saja yang memakan waktu kurang lebih satu jam tergantung kepadatan lalu lintas.  Masjid Al Kamal, dan Hill Park dilewati dulu.  Dari sana tinggal sedikit lagi.  Pintu masuk dari Bumi Perkemahan Sibolangit. Begitu masuk, terus sampai mentok pertigaan, kita ambil jalur ke kiri.  Ketemu simpang tiga lagi belok kanan.  Kalau Anda menemukan jalan berbatu, itu sudah benar arahnya. Sebelum jalan berbatu itu, tepat di persimpangannya ada kedai yang memasang spanduk Telaga 2 warna.  Jadi tidak perlu ragu lagi.

Jika Anda berkendara mobil, tempat parkirnya tepat di pemberhentian ujung. Tak ada jalan lagi.  Anda akan langsung disambut oleh penjaga yang mungkin juga guide di sana. Anda akan ditanya mau kemana, berapa orang.  Kami datang berempat : Saya, istri, dan 2 orang laki-laki kelas 6 dan kelas 3 SD.  Tadinya hanya mau berangkat berdua, tapi anak-anak mendesak ingin ikut.  Ya sudah, dengan perjanjian tidak boleh mengeluh capek.

Biaya masuk 1 rombongan adalah Rp 200,000 (Maret 2015) yang terdiri dari max. 8 orang.  Jadi kalo di rata-rata, biaya per orang Rp 25,000.  Kalo nego-nego mungkin bisa lah untuk 10 orang.  Kalau kami berempat, tadinya ditanya apakah mau gabung dengan kelompok lain ? Konsekuensinya, berangkat dan pulang harus utuh bersama-sama.  Kami putuskan untuk tidak bergabung, jadi grup ekslusif saja hehehe… Itu sudah termasuk biaya guide dan tiket masuk.  Pertimbangannya adalah kami tidak mau terburu-buru, selain menikmati track, juga mengukur kemampuan, terutama umi yang memang jarang olah raga.

OK, Let’s GO !

Perlengkapan berangkat :

1. Baju lengan panjang, khawatir gatal terkena getah dedaunan. Tapi Abi sendiri pakai lengan pendek kok.

2. Celana training. Kalau ada yang anti air mungkin lebih baik, jadi tidak berat ketika terkena air.

3. Topi untuk melindungi wajah / kepala dari binatang yang mungkin jatuh dari atas, atau sarang laba-laba. Abi beberapa kali kena, walaupun hanya selembar, tapi cukup mengganggu.  Herannya anak-anak dan umi gak kena, mungkin sarangnya tinggi ya seukuran kepala abi hehehe…

4. Sepatu /  sandal gunung.  Umi pakai sepatu running, Fatih dan Thoriq pakai sepatu futsal, Abi pakai sandal gunung Weinbrei*  Tujuan utamanya adalah kaki terlindung dari akar-akar, bebatuan dan benda lain yang bisa melukai.  Guidenya sendiri hanya pakai sandal jepit kok.

5. Obat-obatan pribadi, bisa juga antiseptik seperti betadi*

6. Makanan dan minuman secukupnya karena nanti di lokasi juga ada yang jual semacam Mie Rebus Po* Mie, Kopi dan teh instan.  Tapi Anda juga gak mau kan kelaparan / kehausan di jalan.

7. Baju ganti. Kami masing-masing hanya membawa 1 stel baju ganti jadi tidak memberatkan tas ransel.  Ya perlengkapan tersebut kami masukkan dalam tas ransel masing-masing.  Yang paling berat ? Ya pastilah bapaknya anak-anak hehehe…

Kalau Anda dapat guide yang baik hati, dia dengan senang hati menawarkan membawakan tas ransel.  Perjalanan ke atas memakan waktu kurang lebih 2 jam tergantung kecepatan, dan daya tahan masing-masing grup tentunya.

Track yang dilalui adalah hutan tropis (iya gak ya ?) Kenapa saya sebut demikian karena memang ciri-ciri tersebut mirip dengan yang kami lalui.  Sinar matahari agak sulit masuk, namun karena ini sudah menjadi daerah wisata, track sudah lebih bersahabat untuk dilalui. Silahkan google images “hutan tropis” untuk melihat gambaran lebih baik.  Udara jelas sangat segar karena hari masih pagi.  Jam 9.40 kami bertolak dari tempat start.  Air-air yang mengalir di selokan pun jernih. Jangan berharap track yang datar, atau jalan aspal ya hahaha… yang ada terkadang kita temui yang curam menukik ke bawah sehingga disediakan tali untuk berpegangan, dan sebaliknya menanjak ke atas dengan sudut 100-110 derajat.

dwi-warna-sibolangit-2

Kita akan melewati 2 anak sungai setengah jam sebelum sampai puncak. Jadi kalau sudah ketemu anak sungai ini bersyukurlah karena perjalanan melelahkan ini akan segera selesai dan sampai di puncak. Jarak antara anak sungai satu dengan yang kedua hanya sekitar 3 menit.  Jarak antara start hingga ke lokasi puncak adalah 8 km (menurut guidenya).  Jadi total pergi-pulang Anda akan memakan jarak 16 km. Masya Allaah… ini sudah seperti latihan militer ya. Jalan aspal yang lurus saja sudah melelahkan, apalagi ini jalan hutan yang naik turun.  Ini merupakan latihan yang tidak hanya mengandalkan fisik, tapi juga mental.  Kalau mendengar jarak 16 km bagi yang tak pernah olah raga, pasti mundurr…. Namun kenyataannya ketika sudah sampai puncak, banyak anak-anak SD yang mungkin lebih kecil dari Thoriq.

dwi-warna-sibolangit-3

Syukurnya, anak-anak malah senang, tak ada yang mengeluh, kuat-kuat semua, seru katanya… Kami pun tak menyangka. Tapi kami harus mengimbangi dengan kekuatan terendah, Umi 🙂 Beberapa kali Umi hampir nyerah, tapi kami terus semangati dan memang jadinya lebih lama sampainya, hingga 2,5 jam. Tapi gapapa, yang penting akhirnya kami sampai di puncak.

dwi-warna-sibolangit-4

Lapar pun sudah mendera.  Tak lama setelah mengucap syukur, langsung kami buka perbekalan dan makan.  Waktu menunjukkan pukul 12.10 … yah seperti prediksi kami, 2,5 jam perjalanan dari titik start.

Siap makan kami pun mandi, nyebur, nyemplung… airnya duingiin, tapi bagus untuk otot-otot yang sudah kelelahan sejak tadi.  Jadi ingat Timnas, mereka pun menggunakan terapi air es dan air hangat selepas latihan. Jadi bagi Anda yang sudah sampai di sini, jangan sampai Anda tidak menikmati dinginnya telaga 2 warna.  Abi dan Thoriq pun bergerak ke arah air terjun yang satu lagi, yang berwarna bening / putih.  Di sana lebih landai, jadi bisa tidur-tiduran. Batu pun jadi bantal.

Jam 13.30 kami merasa cukup dan bertolak pulang turun ke base. Fatih dan Thoriq berganti baju dan celana. Saya hanya berganti baju karena guide bilang tak perlu karena cuaca sudah mulai gerimis. Ya sudah saya menurut saja, jadi masih menggunakan celana training yang sama.  Jalan pulang dirasa umi lebih nyaman karena lebih banyak menurun dibanding tanjakan.  Waktu rehat pun lebih sedikit dibanding ketika berangkat, sehingga kami lebih cepat sampai di bawah.

Barulah kami bebersih, Umi mandi di titik nol start.  Shalat jamak dzuhur dengan asar. Isitirahat sebentar. Abi baru minum Hydro Coc* supaya mengembalikan cairan yang hilang. Baru deh pulang… Alhamdulillaah…

Happy 13th Anniversary honey…. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s